Surat untuk diri sendiri

Hai, sudah menemukan bahagia dan semangat hari ini ?

Aku ingin cerita. ah tidak, aku hanya ingin bilang.

Kita ini tengah hidupi nama yang akan terus mendewasa dengan waktu. kita ini tengah menempati raga yang masih akan terus berjuang sebab usia belum bertemu akhir. sakit akan terus mampir, sedih juga masih akan terus silih berganti hadir, jangan tanya kecewa dan patah, kalau itu sih memang tiada akhir.

Tapi santai saja. nikmati pelan-pelan apa yang saat ini terjadi. cerna satu-satu apa yang saat ini dipikirkan. kenali pelan-pelan apa yang saat ini dirasa. terima satu-satu apa yang saat ini mengganjal.

Kamu masih perlu hidup, selama aku juga masih bernapas dan berjuang. tak usah tanya kenapa, sebab seharusnya kamu lebih peka, peluk ini takkan lekang hanya karena semuanya berakhir kosong dan sendirian.

kecil yang membekas

Kecil,
yang punya banyak sekali mimpi,
namun beberapanya harus terbiasa hadapi patah.

Kecil,
yang punya banyak sekali rasa ingin tahu,
namun beberapanya harus terbiasa dengan kata maklum.

Kecil,
yang punya banyak sekali kemauan,
namun beberapanya harus terbiasa melihat cukup.

Kecil,
kaki-kakinya,
tangan-tangannya,
mimpi-mimpinya,
cita-citanya,
angan-angannya.

Kecil,
yang tak tahu apa itu kenangan,
yang tak bisa digali ingatan,
yang benar-benar kehilangan jejak,
yang habis sudah semua rasanya perjuangan harapan.

Kecil,
mungkinkah ia akan terus terjebak diruangannya, dan terus meringkuk ketakutan, karena tak pernah lagi akan temukan jawaban, dan masih akan terus hidupi tanda tanya.

Bahagia

Atur-atur ini itu.
Susun-susun ini itu.
Rumit-rumit ini itu.
Susah-susah ini itu.

Tapi biasanya,
akhir ternyata lebih sederhana dari harapan,
bahkan tak jarang
menyuguhkan lebih banyak ragam rasa.

Jadi, coba tentukan
ada banyak versi bahagia umat manusia ?

Jadi, coba jawab untuk dirimu saja,
apakah bahagiamu serupa bahagia menurut dunia?

Meng-ganjal

Banyak dari kita yang sering bilang gapapa, padahal sebetulnya sedang kenapa-kenapa.
Banyak dari kita yang sering bilang baik, padahal sedang tidak baik-baik saja.

Entah kenapa, namun mungkin lingkungan yang membuat kita terbiasa untuk terlihat kuat dan tak inginkan bantuan. Atau mungkin, beberapa orang sudah merasa lelah untuk sekedar meminta bantuan, sebab ia sering diabaikan dan hanya didengarkan setengah utuh.

Kita tak tahu, bahkan tak benar-benar tahu akan orang lain. Terlebih dengan ia yang berada di dekat, semuanya kadang terasa cukup buram.

Kita akan selalu teriakkan luka, duka, sedih, bahkan penderitaan. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa yang akan terluka adalah ia yang berada di dekat, tapi sama sekali tak mengerti apa-apa?

Memang kita harus lebih peka pada sekitar, tapi bukankah tak ada salahnya untuk lebih terbuka jika memang sedang ada yang mengganjal di dada ?

Ke resah -an.

13967 menit yang lalu aku menunggu. menantikan kepulanganmu pada jeda paling panjang yang mereka bilang sebentar.

Aku diam. terlalu lelah mengeluh, terlalu malas bercerita, bahkan rasanya sudah tiada daya untuk menghirup dan menghela napas.

Mungkin benar, pada akhirnya kita akan selalu menunggu. untuk hidup yang berlanjut, atau untuk kepastian yang sejak lama dicari.

Karam

katanya —

“Jangan sampai apa-apa yang memenuhi kepalamu saat ini akan membuatmu karam. Jangan sampai semua hal yang berakhir menggantung tanpa pernah coba kamu tanyakan atau utarakan. Jangan hanya diam dengan semua kata-kata yang didengar. Jangan hanya memendam dengan semua yang dirasakan. Karna sebenarnya, beberapa hal masih bisa untuk dibagi.”

Sebuah Ingin

Dulu, saya selalu berangan-angan.
Kapan ya bisa pergi sendirian?
Merenungi banyak hal,
hingga sanggup bertanya
dalam diri.

Sebenarnya semua ingin itu apa yang dicari?

Hingga kemudian satu persatu
kesempatan jalannya terbuka pelan-pelan,
satu persatu bahkan melampaui apa yang saya bayangkan.

Lalu keinginan itu
berubah setiap harinya,
dan itu berubah menjadi lebih banyak
cerita tentang kehidupan,
yang selama ini lebih banyak saya temukan
diperjalanan pergi dan pulang.

Yang berpusat dari
” sebuah keinginan “

Keinginan saya
untuk menenangkan diri,

Keinginan saya
untuk meluruhkan gelisah,

Keinginan saya untuk
diam-diam mengutarakan ragam rasa

Keinginan saya untuk
lebih banyak mengalah, mendengar, dan mempertahankan prinsip serta tidak mudah ikut-ikutan.

Ya, semua hanya tentang saya, saya, dan saya.

Meski semua ini belum puncaknya,
dan masih ada liku dikehidupan selanjutnya.

Terimakasih, saya bahagia dan bangga.

Berjalan

Hidup ini akan tetap terus berjalan meski rumit membuncah, meski raga sudah mengerang kesakitan, meski jiwa kehilangan harapan,
dan nanti kembali lagi.

Hidup ini akan terus tetap berputar

kadang di bawah,
sampai menatap langit pun tak kuasa.
kadang diatas, hingga menunduk pun rasanya leher tak ingin menolak.

Hidup akan masih terus begini-begini saja,
di isi harapan; terbangun dari tidur; makan karena lapar; patah semangat; bilang ingin menyerah; temukan bahagia; menangis tiada henti.

dan ya, masih akan tetap tidak spesial
walau nanti kalau dilihat lagi
ternyata semua
istimewa.

Langkah

sekecil ini,
dia kita paksa untuk tetap tegak berdiri.
sekecil ini, dia kita paksa untuk kuat melangkah.
sekecil ini, dia kita paksa untuk tidak menyerah.
sekecil ini, dia kita paksa untuk berlari
meski banyak hal tidak mendukung.

sekecil ini,
dia sudah jauh lebih dewasa
dari apa yang ditopang.

tak banyak keluhkan lelah,
tapi lupa untuk dirawat.

tak banyak teriakkan keluhan,
tapi lupa untuk dihargai.

sekecil ini, si kecil ini, si setia
yang berada di bawah ini.

terima kasih ya
masih mau berjuang
tanpa banyak kata basa-basi.

Berlabuh

Ingin bilang selamat, tapi nyatanya tidak semua selamat adalah hal indah. Lagipula, memutuskan berlabuh bukan perihal mengejar keindahan. karena di dalamnya, takkan luput masalah bahkan usaha berjuang,
ya bukan ?

Kemarin adalah menuju hari yang makin dekat, dan sekarang sudah tak lagi ada sekat.

Dunia tahu,
mudah bukanlah hal yang bisa di dapat.
Luka, duka, kecewa dan juga sedih, bisa jadi puncak dari semua rasa khawatir yang tertumpuk.

Namun semoga,
yang di sebelah tak di dorong menjauh hanya karena lelah dan rasa ingin menyerah.

Kita sama-sama tahu,
apa yang sebetulnya hati mau
namun Tuhan bilang bukan.


Kita sama-sama tahu
banyak rencananya yang perlu diubah
sebab butuh, tiada yang lebih tahu dibandingNya.

Kita sama-sama tahu jalan yang ada takkan mudah untuk lagi-lagi dilewati.


Tapi bersama semestinya punya daya lebih untuk tahu belum sekarang saatnya


berkata selesai.

ada waktu yang akan berganti,


ada utama yang akan berubah posisi,


tapi tak apa ya ?


telinga, jemari, senyum, peluk,


bahkan tangis kan setia tetap dibagi.

With love : kikiari.